PDIP Resmi Dukung Dedi Mulyadi, Bagaimana Nasib Ridwan Kamil?

Bandung - Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat baru akan dilaksanakan pada Juni 2018 mendatang. Namun suhunya sudah mulai terasa belakangan ini, bahkan beberapa parpol telah mendeklarasikan dukungannya pada salah satu calon. Mereka mulai menyusun strategi dan bongkar pasang puzzle untuk mendapatkan pasangan calon yang ideal.

Jawa Barat selama ini dikuasai oleh PKS dan kroni-kroninya. Terbukti dengan keberhasilan Aher menduduki kursi gubernur selama dua periode berturut-turut, itu artinya gaya berpolitik PKS sangat diterima disana. Rentan waktu 10 tahun berkuasa, membuat PKS menjadi semakin besar. Sehingga, hal inilah yang membuat PKS yakin dapat berkuasa kembali setelah Aher lengser. Dedi Mizwar disebut sebagai calon terkuat yang akan diusung oleh PKS.

Pada pileg 2014 lalu, PKS berhasil mengumpulkan 12 persen kursi di DPRD Jawa Barat, itu artinya PKS tidak bisa mengusung calonnya sendiri. Sehingga PKS harus memenuhi minimal 20 persen kursi sesuai peraturan KPU.

Meski belum secara resmi terdaftar melalui KPU, namun sudah bisa dibaca kemana arah koalisi PKS dibangun. Kedekatannya yang cukup inten dalam memenangkan pasangan Anies-Sandi di pilgub DKI kemarin, menjadi acuan untuk kembali membangun koalisi dengan Gerindra. Apalagi pasca pilpres 2014 lalu, mereka mendeklarasikan diri sebagai pasangan koalisi sehidup semati.

11 persen kursi yang dimiliki Gerindra sudah lebih dari cukup untuk membangun koalisi dengan PKS. PKS akan mengusung Dedi Mizwar sebagai calon gubernur dan Gerindra akan mengisi calon wakil gubernur. Cawagub bisa berasal dari kader Gerindra terbaik maupun dari independen. Berikut pemaparannya:

Pertama, Gerindra sudah menyatakan sikap, bahwa tidak akan mendukung calon manapun yang didukung oleh partai koalisi pemerintahan. Gerindra beranggapan, tidak mungkin mendukung calon yang didukung oleh partai yang tidak mendukungnya di pilpres 2014 lalu.

Dari sini sudah bisa dibaca, koalisi yang dibangun oleh Gerindra-PKS akan mirip-mirip dengan koalisi pada pilpres 2014, pilgub DKI dan yang akan terjadi pada pilgub Jawa Barat nanti. Koalisi ini akan berlanjut hingga pilpres 2019 mendatang. Gerindra-PKS dan koalisinya dengan PDIP dan koalisinya.

Kedua, dalam politik simbol, keberadaan PDIP selalu dikaitkan dengan nama Jokowi, begitu pun dengan Gerindra yang identik dengan nama Prabowo. Pada pilpres 2014 lalu, Jokowi kalah telak di Jawa Barat. 60 persen lebih suara berhasil dikuasai oleh Prabowo.

Jawa Barat merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak. Badan Pusat Statistik ( BPS ) menyatakan, ada sekitar 52 juta jiwa lebih yang tinggal di Jawa Barat. Dari data tersebut, kurang lebih sekitar 33 juta jiwa terdaftar sebagai pemilih tetap ( DPT ).

Melihat potensi Jawa Barat memiliki hak suara yang begitu besar, bisa dipastikan pertarungan akan berlangsung cukup sengit. Karena meski hanya pertarungan setingkat provinsi, namun auranya sudah mengarah ke pilpres 2019. Para tokoh besar akan turun gunung dan all out untuk mendukung calonnya masing-masing. Prabowo akan menyuarakan kembali semboyan pamungkasnya, dan kira-kira bunyinya begini :

“Jika kalian ingin Prabowo menang pada pilpres 2019, maka pilihlah pasangan Dedi Mizwar – Mister X. Kemenangan Dedi Mizwar – Mister X, adalah kemenangan Prabowo di pilpres 2019. ”

Siapakah Mister X yang dimaksud?

Ketiga, selain nama Dedi Mizwar, ada beberapa nama calon lain yang cukup mumpuni untuk maju di pilgub Jawa Barat. Diantaranya, Dedi Mulyadi yang saat ini menjabat sebagai Bupati Purwakarta dan Ridwan Kamil yang merupakan Walikota Bandung. Dedi Mulyadi sudah mendapatkan tiket pencalonannya melalui Partai Golkar dan akan berpasangan dengan PDIP.

Berdasarkan komposisi DPRD Jawa Barat, PDID memiliki 20 persen kursi. Itu artinya, PDIP menjadi satu-satunya partai yang bisa mengusung pasangan calon tanpa koalisi. Namun PDIP tidak melakukan hal itu. PDIP lebih mengedepankan sosok pemimpin yang benar-benar diinginkan oleh rakyat, meskipun berasal dari luar kader partai. Terbukti, dengan bergabungnya PDIP ke Golkar, itu menunjukkan kedewasaannya dalam berpolitik.

PDIP justru rela menerima kadernya atau orang pilihannya hanya diposisikan sebagai calon wakil gubernur. Meski sampai saat ini masih belum diputuskan siapa nama calon yang akan dipasangkan dengan Dedi Mulyadi. Dalam hal ini, PDIP cukup hati-hati dalam menentukan calon yang dipilihnya. Sebab, jika PDIP kembali kalah seperti pada 2013 lalu, bukan reputasi partai yang menjadi pertaruhan.

Namun, ini juga menjadi kunci kemenangan bagi Jokowi di pilpres 2019 nanti. Untuk itu, PDIP akan berusaha secara maksimal.

Kembali ke sosok Mister X. Mister X yang dimaksud, tak lain adalah Ridwan Kamil ( RK ). Memang benar, RK sudah mendapatkan dukungan dari Nasdem, namun jumlah kursi Nasdem tak cukup untuk memenuhi syarat yang diwajibkan oleh KPU. Nasdem hanya memiliki 5 persen kursi di DPRD, itu artinya ia harus berkoalisi dengan beberapa parpol besar untuk memenuhi 20 persen kursi.

Membaca peta politik yang ada, sepertinya akan berat bagi Nasdem mencari pasangan koalisi. Peluang Nasdem untuk berkoalisi hanya tinggal PPP, PKB, dan Hanura. Tetapi kemungkinan itu sangat kecil, ketiga partai tersebut justru akan lebih cenderung merapat ke koalisi Golkar-PDIP.

Langkah itu akan diikuti oleh Nasdem untuk sama-sama mendukung koalisi Golkar-PDIP. Dan nasib RK sendiri bergantung pada PDIP. Dengan pertimbangan popularitas Ridwan Kamil selama menjadi Walikota Bandung, bisa menjadi alasan bagi PDIP mengusung RK untuk mendampingi Dedi Mulyadi. Opsi lain jika PDIP enggan mengusung RK dengan berbagai alasan, maka ia akan menunjuk kader terbaiknya.

RK yang selama ini berambisi menjadi gubernur, akan menerima pinangan siapapun yang mau mengusungnya meski hanya diposisi calon wakil gubernur. Karena peluang yang ada hanya tinggal posisi calon wakil gubernur.

Besar kemungkinan yang terjadi hanya akan ada 2 koalisi yang bertarung. PDIP-Golkar dan koalisinya, Gerindra-PKS dan koalisinya. Apakah mungkin RK bergabung kembali ke partai yang memenangkannya dulu di pilkada Bandung?

Sumber : seword.com