Kenapa Hary Tanoesodibjo Terpaksa Dukung Jokowi ?

Jakarta - Dukungan Hary Tanoesodibjo terhadap jokowi sebagai calon presiden 2019. Kita kaget dengan perubahan dukungan Hary Tanoesodibjo secara mendadak, tadi biasanya selalu bersikap antipati dan dan bertentangan dengan Jokowi.  Ada apa dengan Hary Tanoesodibjo ?

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon menanggapi dukungan Hary Tanoesodibjo terhadap Jokowi. Fadli Zon anggap dukungan Hary Tanoesodibjo tersebut itu wajar.    Dikarenakan ada kecenderungan orang yang alami banyak tekanan.

Fadli Zon menuduh , ada tekanan pemerintah terhadap Hary Tanoesodibjo terkait kasus hukum yang membelit Hary Tanoesodibjo. Padahal presiden Jokowi tidak ada urusan sedikitpun dengan kasus Hary Tanoesodibjo. Jangankan kasus Hary Tanoesodbjo, kasus Ahok saja tidak diurusi , malah dibiarkan saja tanpa campur tangan Jokowi. Sampai Ahok divonis hukuman penjara 2 tahun oleh pengadilan, Jokowi tidak mencak-mencak malah suruh kita harus hormati mekanisme hukum.

Maka tuduhan Fadli Zon terlalu ngawur bahkan asal-asalan.   Kalau memang ada otak cangkok Fadli Zon, entah ditaruh dimana ?    Hary Tanoesodibjo jelas tidak bodoh karena tahu , tidak mungkin minta tolong sama Jokowi terkait kasus yang menjeratnya.

Tetapi kenapa Hary Tanoedodibjo harus mendukung Jokowi?    Jelas bukan berkaitan dengan kasus yang menjerat Hary Tanoesodibjo.    Pasti ada alasan lain.

Memang benar Hary Tanoesodibjo tertekan tetapi bukan dari pemerintah.    Tekanan datang justru dari kader (Partai) Persatuan Indonesia ( Perindro ).   Kan Hary Tanoesodibjo ketua umum Perindo .

Hary Tanoesodibjo menyadari bahwa banyak orang tertarik bergabung dan menjadi kader Perindo bukan karena ketokohan Hary Tanoesodibjo.    Yang benar, banyak orang cenderung tertarik program keekonomian/kesejahteraan yang ditawarkan Perindo.    Seperti diberi modal usaha atau peralatan usaha.    Banyak orang merasa banyak terbantu dengan pemberian gerobak, sehingga usahanya bisa berkembang lebih baik. Satu gerobak saja sudah mahal sekitar 2-5 juta.

Perindo juga berani menawarkan pinjaman untuk usaha dengan bunga sangat rendah, bahkan lebih rendah daripada bunga yang diterapkan bank pada umumnya.

Sesuai komitmen Perindo dengan jargon “Untuk Indonesia sejahtera”, Perindo rajin menggelar kegiatan-kegiatan sosial dan mewujudkan program kesejahteraan yang menjadi prioritas Perindo.    Program-program kesejahteraan yang digulir Perindo begitu nyata dan dinikmati langsung oleh banyak orang.   Tidak seperti partai politik lain yang cuma mengumbar janji menyejahterakan rakyat atau tepatnya membual ,hanya demi mendulang suara rakyat di kampanye pemilu.

Tidak heran, Perindo mengalami perkembangan cepat.   Padahal Perindo dibentuk dan didirikan pada tanggal 7 Februari 2015.    Hampir semua propinsi di Indonesia sudah ada Perindo.   Dalam waktu singkat, 2,5 tahun , sudah dideklarasikan DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Perindo di hampir semua propinsi dan DPD /DPC (Dewan Pimpinan Daerah/Cabang) Perindo khususnya untuk wilayah lebih kecil yaitu kabupaten/kecamatan.

Sudah jadi karakter Perindo untuk peduli akan kesejahteraan rakyat.   Maka banyak orang berbondong-bondong menjadi anggota/kader Perindo. Kesejahteraan itulah sesungguhnya adalah paling dicari banyak orang.

Mau tidak mau harus diakui , kesejahteraan yang diperoleh dari Perindo betul-betul dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.    Akan tetapi kesejahteraan diperoleh dari pemerintah sekarang dan khususnya Presiden Jokowi jauh lebih hebat dan jauh lebih besar .

Maka sebagian besar anggota / kader Perindo menginginkan masa pemerintahan Jokowi diperpanjang melalui mendukung Jokowi untuk menjadi presiden Indonesia periode kedua. Dukungan kader Perindo terhadap Jokowi disadari penuh Hary Tanoesodibyo. Karena tekanan besar / keinginan besar kader Perindo tidak bisa dilawan, maka Hary Tanoesodibyo (terpaksa) menyatakan dukungannya dan Perindo terhadap Jokowi.

Apabila melawan atau tidak memperhatikan keinginan kader Perindo, bisa-bisa Perindo bubar dan hancur berkeping-keping. Hilanglah hasil kerja keras dan banyak uang yang dikeluarkan menjadi sia-sia.    Hary Tanoesodibyo bisa mengukur diri,apabila dibandingkan dengan Jokowi, Hary Tanoesodbyo tidak ada apa-apa. Sembari mencari celah yang nantinya bisa menguntungkan Hary Tanoesodibyo seperti menawarkan kader Perindo untuk menjadi menteri / pejabat negara.

Yang pasti dan sangat memungkinkan untuk dijadikan sasaran Hary Tanoesodibyo adalah kursi DPR/DPRD. Lewat DPR/DPRD, nama Perindo makin berkibar. Suatu saat jadi batu loncatan Hary Tanoesodibyo untuk masuk daftar orang yang diperhitungkan dalam dunia perpolitikan di Indonesia.

Cuma  belum tercatat sebagai partai politik yang ikut pemilu 2019 , karena menunggu verfikasi partai politik dari Komite Pemilu Umum (KPU).    Perindo hanya bisa sebatas mendukung Jokowi tetapi tidak bisa mengusung Jokowi karena mengacu UU Pemilu yang barusan disahkan DPR kemarin.    Dalam UU Pemilu tersebut , disebutkan “ Yang berhak mengusung calon presiden Indonesia adalah partai politik yang pernah ikut pemilu 2014”

Otak cangkok saya mau masuk Perindo. Tentunya ada imbalan dulu yaitu mobil Pajero Sport idaman saya,hehehe

Sumber : seword.com