Horor! Saksi Kunci E-KTP Meninggal, Masih Ngetweet, Benarkah Bunuh Diri??

Jakarta - Saksi kunci kasus korupsi e-KTP, Johannes Marliem, dikabarkan tewas di kediamannya di Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS). Marliem sampai saat ini diduga menembak dirinya sendiri. Kebenaran apakah memang bunuh diri atau tidak hingga saat ini masih menjadi pertanyaan.

Kematian Johannes ini mau tidak mau memang pada akhirnya disangkutpautkan dengan kasus E-KTP. Apalagi Johannes sudah diblowup sedemikian rupa sebagai saksi kunci yang memiliki bukti rekaman pertemuan sebesar 500 GB. Bukti itulah yang diyakini akan dengan mudah menjerat para tersangka E-KTP.

Johannes memang dijadikan ulasan khusus oleh Tempo terkait pengetahuan dan pemahamannya terkait kasus E-KTP. Johannes bahkan dalam wawancaranya kepada Tempo memberikan sebuah tantangan dan ancaman bahwa dia bisa menjerat siapa saja dengan bukti yang dipegangnya.

Berikut pernyataan Johannes saat diwawancarai oleh Tempo.

“Tujuannya cuma satu: keeping everybody in honest,” kata Johannes Marliem.

“Hitung saja. Empat tahun dikali berapa pertemuan. Ada puluhan jam rekaman sekitar 500 GB,” kata dia. Johannes Marliem bahkan menantang, “ Mau jerat siapa lagi? Saya punya,” ujarnya.

Wawancara yang dilakukan pertengahan Juli tersebut memang membuat heboh. Bukan hanya rakyat biasa tetapi terlebih oleh orang-orang yang diduga terlibat dalam kasus ini. Kalau benar Johannes memegang bukti rekaman pertemuan, maka dengan mudah saja menjerat siapa saja yang bermain dalam kasus ini.

Tetapi apa yang diucapkan oleh Johannes tersebut malah menjadi sebuah ancaman balik bagi dirinya. Tantangan yang diberikannya sadar atau tidak akan membuat kubu yang terlibat dalam kasus E-KTP akan menjadikan dirinya sasaran. Sasaran untuk balik diancam supaya tidak membuka semua rahasia tersebut atau membungkamnya selamanya.

Tantangan tersebutlah yang menurut saya menjadi sangat wajar kalau kematian Johannes dikaitkan dengan kasus E-KTP. Peristiwa ini semakin memperkuat bahwa kasus E-KTP ini bukan kasus biasa dan sepertinya menyangkutpautkan seseorang yang punya akses yang tinggi. Sehingga bisa melakukan teror seperti ini.

Kematian Johannes ini sempat juga menimbulkan horor karena akun twittwernya sempat membuat status baru. Tetapi status tersebut akhirnya dihapus tidakk berapa lama kemudian. Sempat ada yang menggoreng adanya keanehan dan kejanggalan bahwa akunnya kena hack. Penjelasan masuk akal adalah cuitan tersebut adalah cuitan otomatis.seperti penjelasan akun twitter berikut..
Warta🌐Politik™‏ @wartapolitik
Itu twit otomatis dari feed yg terpasang di akun itu. Kami lihat ada bbrp situs yg feed-nya dipasang termasuk http://nature.com
Ancaman dan teror dari kasus E-KTP ini bukan isapan jempol. Memang sangat terbukti bahwa kasus ini penuh dengan usaha teror. Saksi lain Maryam bahkan harus mengubah kesaksiannya karena diduga juga mendapatkan ancaman dan teror. Bahkan sempat menghilang dan menjadi buronan. Teror juga dilakukan pada penyidik KPK, Novel Baswedan, yang sempat diduga juga ada sangkut pautnya dengan kasus ini,

Belum lagi teror berlapis yang dilakukan oleh DPR dengan akal-akalan pansus hak angket. Pansus ini terornya lebih mengerikan lagi. Semua intansi dikorek demi membeberkan kelemahan-kelemahan KPK yang ujung-ujungnya seperti ingin membubarkan KPK.

Anehnya, pansus ini senang kalau keburukan KPK disampaikan oleh orang dan instansi yang diperiksa tetapi kesal kalau ada instansi yang tidak menjelek-jelekkan KPK. Seperti yang dilakukan LPSk yang dituding berpihak kepada KPK karena keterangannya tidak ada yang menjelek-jelekkan KPK.

Syukurnya sekarang ini adalah pemerintahan yang tidak bisa diatur dan dikendalikan oleh partai politik sekalipun itu adalah partai politik pendukung pemerintah. KPK tetap didukung dan membongkar habis semua tersangka dalam kasus E-KTP ini. Kasus yang sebelumnya begitu susah untuk diungkapkan.

KPK pun tetap menyatakan komitmennya untuk terus mengungkapkan kasus ini sampai tuntas. Komitmen yang tentunya harus disertai dengan keberanian yang luar biasa serta antisipasi saksi dan bukti yang juga harus diperketat. Jangan sampai kasus ini akhirnya dibungkam dengan hilangnya saksi dan barang bukti.

Teror-teror yang terjadi dan bahkan matinya saksi kunci Johannes Marliem membuat kasus E-KTP ini tidak bisa lagi dianggap kasus biasa. Publik harus terus mengawasi karena sepertinya ada nama besar yang terlibat selain Setya Novanto. Apakah E-KTP menyentuh orang-orang dalam Istana saat itu?? Dugaan saya bisa jadi. Karena pastinya semua ini atas “ridho” sang pucuk pimpinan.

Apakah dugaan saya ini benar?? Ahh.. Namanya juga dugaan..

Salam Horor.