Fadli Zon Cakar-cakaran , dan Fakta dari Pujian Arief Poyuono kepada Jokowi


Jakarta - Menjadi geli sendiri lantaran sesama petinggi partai Gerindra melakukan cakar-cakaran lewat statment yang berseberangan di media massa.

Sebelumnya, Arief membuat pernyataan yang tidak bisa ditolerir lagi terkait mewajarkan PDI Perjuangan disamakan dengan PKI. Meskipun tujuannya terkesan hanya mencari panggung, tetapi itu merupakan fitnah yang dapat menimbulkan konflik horizontal dikarenakan PKI memang sudah dilarang di Indonesia. Dan akhirnya, Arief dilaporkan oleh sayap partai PDI P.

Cakar-cakaran

Kemungkinan karena merasa tidak dibela lantaran permasalahan yang menyeret Arief, malah justru dipermalukan , membuat Arief geram. Bagaimana tidak geram, mungkin upaya membenturkan PDI P dengan isu PKI, tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk menggembosi suara Jokowi di pilpres 2019 tetapi malah tidak dibela, padahal itu untuk ketum Gerindra yang akan nyalon lagi di pilpres.

Menjadi tidak aneh, jika Arief merasa dirinya hanya dimanfaatkan saja. Perang statment akhirnya dilakukan di media massa. Fadli menyebut Arief mencla-mencle, sedangkan Arief mengatakan Fadli Zon kacung Neolib.

“Lebih baik dianggap mencla-mencle apa jadi kacungnya Amerika Serikat? Di mana ada politisi Indonesia yang sangat bangga ikut hadir dan ikut memberikan dukungan pada saat capresnya Amerika Serikat Donald Trump kampanye,” kata Arief.

“Sedih saya sama model politisi yang mentalnya mental kacung tapi topengnya nasionalis. Mana bisa maju negeri ini kalau banyak politisi yang bermental kacung asing?” tambahnya.

Pujian Arief ke Jokowi memang fakta yang disembunyikan

Jika ada orang Gerindra yang memuji Jokowi lantaran sebuah fakta, itu namanya aneh, karena Jokowi merupakan rival dari Prabowo dalam pilpres yang lalu . Dan hingga detik ini, yang menjadi pandangan calon presiden di tahun 2019 ya cuma Jokowi dan Prabowo, belum ada gambaran kandidat lain.

Jadi tidak heran jika orang-orang Gerindra nyinyir setiap ada kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Jokowi, karena hal tersebut digunakan untuk menggempur kepercayaan publik terhadap pemerintahan, yang diharapkan melemahkan suara Jokowi nanti pada saat kembali nyapres di tahun 2019. Tetapi sayangnya, nyinyiran akan kalah dengan kerja nyata yang sudah dapat dilihat dan dirasakan masyarakat yang mengerti.

Untuk mengakui apa yang dilakukan Jokowi itu sangat mudah, tetapi untuk melakukan fitnah, itu yang sulit, karena harus membuat bukti yang mengada-ada. Jadi tidak heran, jika Arief bisa memuji Jokowi dengan mudah, karena memang fakta ada.

“Melihat prestasi Joko Widodo yang bakal meraih kesuksesan sepertinya bukan tidak mungkin Joko Widodo akan terpilih kembali jika mencalonkan kembali sebagai capres 2019,” kata Arief.

“Hampir tiga tahun pemerintahan Joko Widodo sudah mulai menunjukan arah kemajuan yang nyata yang mulai dirasakan masyarakat,” ucapnya.

“Pemerintahan Joko Widodo berhasil melakukan penurunan dwelling time dan melakukan pemberantasan pungli yang menjadi biaya ekonomi tinggi selama ini,” tambahnya.

“Serta peran serta BUMN yang langsung mengambil proyek proyek infrastruktur yang dicanangkan oleh pemerintah berjalan efektif dan bergerak lebih cepat,” ucapnya. “Ini bukti paling konkret kalau perekonomian nasional makin kinclong,” lanjutnya.

Budayakan kritik cerdas, jangan fitnah

Mengkritik bukanlah perkara mudah, karena harus memiliki wawasan yang luas. Kritik membangun akan berguna bagi yang dikritik. Selain itu kritik juga harus masuk di akal dan mempunyai data yang benar.

Entah mengapa, kebanyakan lawan politik dari Jokowi cenderung nyinyir dan mefitnah ketimbang melakukan kritik yang membangun. Apakah ini pertanda, peta perpolitikan kita sudah lama didiami oleh orang-orang yang membesarkan perutnya sendiri dari pada untuk kepentingan bersama, sehingga tumpul rasa kritis untuk membangun, yang ada hanya upaya bagaimana menjatuhkan lawan politik dengan fitnah dan intrik yang picik juga licik?

Ataukah mungkin, Jokowi sudah memilih orang-orang yang tepat disekitarnya, sehingga semua masukan positif sudah terserap dengan baik? Bisa jadi begitu, melihat keputusan-keputusan Jokowi yang tepat sasaran. Selain tepat sasaran juga begitu berani meskipun keputusan yang diambilnya tidak populer seperti kebijakan penarikan subsidi BBM. Kita ketahui bersama, di zaman SBY juga pernah ingin menarik subsidi BBM, tetapi tidak jadi, dan meskipun ditarik sedikit, namun untuk menekan ketidak populeran dibagikannya Bantuan Langsung Tunai kepada warga miskin, meskipun itu terkesan untuk apus-apus saja.

Sumber pendukung :
http://nasional.kompas.com/read/2017/08/08/19461691/arief-poyuono-kini-puji-jokowi-prediksi-bisa-menang-pilpres-2019
https://news.detik.com/berita/3593646/poyuono-sindir-fadli-rapopo-mencla-mencle-daripada-kacung-neolib