Agus Tak Melihat Sisi Diktator Jokowi, Modyar Kalian Haters!

Jakarta - Akhir-akhir ini banyak yang menyebarkan isu bahwa Presiden Joko Widodo seperti diktator. Rata-rata yang mengatakan seperti itu adalah orang-orang yang dulu menyebutnya Presiden klemar-klemer, tidak tegas, dan ndeso. Alasannya Jokowi dianggap ‘mematikan’ demokrasi dengan mengeluarkan Perppu Ormas dan Kemenkominfo sempat membekukan telegram.

Tak sedikit mereka yang mengatakan Jokowi diktator adalah simpatisan Partai Demokrat. Sering sekali mulai tokoh partainya hingga sekedar pemandu soraknya di media sosial mengunggah status terkait hal tersebut.

Hari ini usai kunjungan Agus Harimurti Yudhoyono di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, putra sulung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut mengatakan hal yang justru berkebalikan dengan isu Jokowi diktator.

“Ya beliau sangat baik ya, beliau menerima saya langsung, berdiskusi, itu bagi saya luar biasa. Beliau artinya benar-benar menghargai pemuda,”

“Saya merasa masih pemuda, karena beliau mengganggap saya generasi muda yang harus terus dipersiapkan, dibuka jalannya ke depan, karena biasanya pemuda itu memiliki energi, dan pemikiran yang out of the box. Artinya saya tidak melihat apa yang dipotretkan oleh sebagian orang,”

Ini kalau sampai pendukung SBY memposisikan kata-kata Agus cuma sekedar ‘abang-abange lambe‘ alias kata-kata manis tentu artinya sama dengan mengatakan Agus bermental asal bapak senang dan penjilat. Tapi mengatakan bahwa Agus jujur dan opini tersebut benar tentu seperti menelan ludah sendiri. Ya gimana tidak, dari Pilkada DKI Jakarta saja mereka sudah menyerang Jokowi dengan berbagai macam isu dan makin parah setelah pertemuan SBY-Prabowo, kasus e-KTP, Perppu Ormas, dan lain-lain.

Saya kira Agus tahu betul bahwa apa yang dilakukan Jokowi hanyalah sebuah bentuk ketegasan seorang pemimpin yang mau tidak mau tidak akan selalu bisa menyenangkan seluruh rakyatnya dan harus mengambil keputusan yang seringkali less favourable. Mungkin saja dalam hati Agus sebetulnya tahu inilah kelemahan ayahnya dulu saat menjabat yakni kurang tegas dan terkesan melakukan pembiaran sehingga beberapa polemik yang terjadi saat ini adalah bom waktu.

Sebagai putra mahkota, langkah Agus datang ke Istana ini bolehlah diberikan tepuk tangan. Ia paham benar secara komunikasi politik meski bapaknya lebih punya nama besar namun di mata banyak orang citranya sudah tak sekokoh dulu. Dengan maunya Agus bersilaturahmi ke Istana juga merupakan sebuah harapan agar generasi yang kelak akan terjun di percaturan politik tidak perlu lagi terbebani drama politik yang sekarang atau dulu telah terjadi. Tapi sejujurnya sih saya masih agak sedikit curiga, “ada apa nih dengan Cikeas kok tiba-tiba begini?“. Apakah jangan-jangan sebenarnya Agus adalah the messenger yang membawa pesan khusus dari Demokrat ataupun Cikeas untuk pemerintahan Jokowi? Kalau iya, kira-kira mengenai apa ya? Partainya? Adiknya? Ayahnya? Mertuanya?

Presiden Jokowi pun sekali lagi menunjukkan sikapnya sebagai negarawan. Buktinya Ia dan sang putra, Gibran Rakabuming, bisa menerima kehadiran Agus dengan baik. Kalau Jokowi seorang diktator tentu Ia tak mau menerima anak yang pendukung politiknya sering sekali memfitnahnya macam-macam. Kalau misalnya Jokowi terlihat ‘agak malas’ dengan ayahnya ya mungkin faktor masalahnya ada di sang ayah. Tapi bagi Jokowi sang anak adalah pribadi lain yang masih bisa diajak berdiskusi dan berkomunikasi serta mau belajar.

Sumber : https://kumparan.com/ananda-wardhiati-teresia/agus-yudhoyono-tak-melihat-sisi-diktator-jokowi?utm_source=Twitter&utm_campaign=int&utm_medium=post