Terbongkar!! Keinginan Prabowo dengan Mengkudeta Jokowi Melalui Fadli Zon Untuk Menjadi Presiden

Jakarta - Dalam kesaksian Allan Nairn di artikel hasil investigasinya yang berjudul, “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President”, Kivlan Zein memberitahu Allan Nairn bahwa keterlibatan dan peran Prabowo Subianto dalam upaya kudeta untuk menggulingkan Presiden Jokowi, yaitu melalui Fadly Zon, Wakil Ketua Gerindra yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI.

“As for his old boss Gen. Prabowo, Kivlan also echoed what others said: “Prabowo doesn’t want to be close, but he does it through Fadli Zon.” If he were openly close to the movement, it would be difficult for him, so Fadli Zon is the front.”

Terjemahan lurusnya, sebagai berikut :

“Mengenai boss lamanya Jenderal Prabowo, Kivlan juga menggaungkan apa yang dikatakan yang lain: “Prabowo tidak mau dekat-dekat, tetapi dia melakukannya melalui Fadli Zon.” Jika Prabowo secara terbuka dekat dengan gerakan itu, akan kesulitan baginya, maka Fadly Zon yang didepan.”

Sebenarnya ini bukan hal yang baru, tanpa informasi Kivlan Zein pun publik sudah bisa membaca manuver-manuver Prabowo Subianto selama ini melalui Fadly Zon.

Sebagai seorang mantan Danjen Kopassus, strategi nabok nyilih tangan seperti ini sudah biasa diterapkan dalam dunia militer. Orang awam juga tahu jika secara terang-terangan Prabowo Subianto frontal dengan kepemimpinan Jokowi, maka akan ketahuan belangnya Prabowo Subianto yang nafsu ingin menjadi Presiden RI.

Itulah sebabnya tidak terlalu mengherankan bagi saya dengan apa yang disampaikan oleh Kivlan Zein kepada Allan Nairn dan kenapa Fadly Zon selama ini begitu frontal melakukan perlawanan terhadap Presiden Jokowi karena dia hanyalah pionnya Prabowo Subianto dalam upayanya melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah.

Jika mau ditelisik lebih dalam, upaya-upaya kudeta terselubung yang dilakukan Prabowo Subianto terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi sudah berlangsung lama sejak kekalahannya yang menyakitkan dalam pilpres 2014 yang lalu.

Dalam kunjungan balasannya Prabowo Subianto ke Istana Negara (17/11/16), Prabowo Subianto berkata kepada Presiden Jokowi bahwa ia akan mendukung pemerintahan Jokowi dan tidak akan menjegal pemerintahannya.

Ini adalah strategi lips service (Baca: lain di bibir lain di hati) untuk menutupi gerakan kudeta terselubung yang diperjuangkan Prabowo Subianto melalui Fadly Zon. Pergerakan Prabowo Subianto selama ini sudah bisa terbaca, setidaknya berdasarkan fakta-fakta berikut ini;

Pertama, yaitu melalui mantan narapidana kasus korupsi M. Taufik yang adalah kader Gerindra dimana posisinya saat ini sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.

Setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden RI, M. Taufik dengan frontal menolak mengakui status Jokowi sebagai Presiden RI dengan tidak mau memasang foto Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden RI yang sah di ruang kerjanya di DPRD DKI Jakarta.

Di belakang kursi kerjanya, justru yang terpasang adalah foto besar Prabowo Subianto. Padahal kantor yang ia tempati adalah milik negara, bukan milik Prabowo Subianto.

Dengan tidak dipasangnya foto Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden RI yang sah, maka andil Prabowo Subianto dalam gerakan kudeta terselubung sudah terlihat sejak lama, M. Taufik diperintah untuk tidak memasang foto Jokowi dan Jusuf Kalla di ruang kerjanya.

Kedua, bibit-bibit kudeta itu sudah timbul sejak partai Gerindra menyiapkan kabinet bayangan dan APBN tandingan. Hal ini terungkap dari pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gedindra Ferry Juliantono dalam diskusi Diklatnas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) IV, di Gedung Panca Gatra Lemhanas (15/10/16).

Kabinet bayangan dan APBN tandingan versi Gerindra tersebut disiapkan dengan tujuan agar jika sewaktu-waktu pemerintahan Jokowi ambruk, maka Prabowo Subianto akan segera mengambil alih pemerintahan dengan menggunakan Kabinet dan APBN yang telah mereka susun menurut versi mereka. Ini adalah bentuk upaya kudeta terselubung yang dilakukan Prabowo Subianto terhadap pemerintahan Jokowi yang sah.

Prabowo lupa, atau barangkali tidak mengerti, bahwa NKRI tidak menganut sistem Parlementer dan Demokrasi Presidensial. Bangsa ini juga tidak mengenal yang namanya oposisi dengan kabinet bayangan dan APBN tandingan.

Ketiga, perlawanan-perlawanan Fadly Zon selama ini dilakukan secara terang-terangan dengan menyerang Presiden Jokowi dalam setiap kebijakan-kebijakannya. Tidak ada kebijakan Jokowi yang baik dan benar dimatanya, semuanya merugikan rakyat banyak.

Strategi itu sengaja dilakukan oleh Fadly Zon dengan dibantu rekannya Fahri Hamzah, yang gencar menggerogoti dan menentang Presiden Jokowi dalam menjalankan roda pemerintahan.

Bahkan Fahri Hamzah secara terang-terangan melontarkan statement bahwa Jokowi bisa dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden RI karena kebijakan memangkas anggaran APBD untuk melakukan penghematan terhadap keuangan negara.

Ini sengaja mereka lakukan untuk menciptakan keresahan dan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi dengan cara meracuni alam bawah sadar rakyat secara terus-menerus dan berulang-ulang.

Pola ini sama persis dengan yang mereka terapkan dalam masa pilkada DKI Jakarta untuk menggulingkan Ahok dengan cara khotbah di masjid-masjid dan gerakan sholat subuh berjamaah dengan materi yang sama dan berulang-ulang oleh para Khotib untuk meracuni alam bawah sadar umat Islam DKI Jakarta bahwa Ahok adalah penista agama Islam. Dan gerakan itu terbukti berhasil.

Keempat, malam hari sebelum Rachmawati, Kvlan Zein, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, dibekuk Polisi karena upaya makar, Fadly Zon dan Fahri Hamzah meninggalkan Jakarta menuju luar negeri dengan menggunakan penerbangan malam hari karena mungkin mereka sudah tahu kalau tetap berada di Jakarta pada saat itu, maka mereka akan diciduk Polisi pada dini hari bersama-sama dengan para pelaku upaya makar lainnya.

Kelima, pembelaan-pembelaannya Fadly Zon yang membabi-buta terhadap para pelaku makar yang telah ditangkap Polisi menunjukan sikapnya yang lempar batu sembunyi tangan. Strategi dan skenario mengecam dan mengintervensi pihak Kepolisian terhadap penangkapan para pelaku makar sengaja diterapkan karena tidak ingin kedoknya terbongkar.

Apa yang dilakukan oleh Fadly Zon selama ini yang menyerang secara frontal dan terang-terangan terhadap Presiden Jokowi secara terus menerus tidak lepas dari andil Prabowo Subianto untuk menggoyang dan merongrong pemerintahan Jokowi. Mereka ini ibaratnya kaum Bani Ummayah bin Abu Sofyan dan sekutu Yazid.

Prabowo Subianto lupa, atau barangkali tidak tahu, bahwa Presiden Republik Indonesia hanya bisa digulingkan melalui aturan yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang yang sah dan berlaku mengikat, yaitu jika Presiden Republik Indonesia terbukti melakukan tindak pidana atau terbukti melakukan korupsi.

Sumber : seword.com