Menjadi Asisten Presiden Donald Trump , Wanita Ini Digaji Besar


Amerika Serikat - Madeline Westerhout tidak seperti kebanyakan anak muda berusia 26 tahun. Pada saat yang lain sedang mengalami krisis seperempat kehidupan, wanita berambut panjang ini justru menempati posisi bergengsi di Gedung Putih.

Westerhout menjabat sebagai Asisten Eksekutif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Jabatan yang mungkin jadi dambaan banyak orang.

Dengan jabatan bergengsi itu, berapa penghasilan yang didapat Westerhout?

Menurut data gaji yang dirilis Gedung Putih, seperti mengutip CNBC, Sabtu (1/7/2017), dia menghasilkan US$ 95 ribu setahun yang setara Rp 1,24 miliar (US$ 1=Rp 13.100).

Bagi sebagian besar karyawan usianya, itu adalah gaji yang lumayan mereka dapatkan. Rata-rata pekerja berusia antara 25 dan 34 tahun di AS menghasilkan US$ 50.232 per tahun atau sekitar Rp 658 juta.

Tapi sekali lagi, para profesional muda tersebut tidak memiliki pekerjaan seperti Westerhout.


Di atas kertas, apa yang didapat Westerhout sebenarnya sama dengan pendahulunya, Anita Decker Breckenridge, yang merupakan Asisten Eksekutif Presiden Barack Obama, selama masa jabatan keduanya. Kala itu dia menghasilkan US$ 95 ribu.

Namun bila mengacu ke faktor inflasi, Asisten Trump mendapatkan lebih sedikit dari Breckenridge, yang nilai gajinya pada 2011 senilai US$ 103 ribu setara Rp 1,34 miliar pada hari ini.

Namun bila dibandingkan dengan asisten eksekutif pertama Obama, yang mulai bekerja pada 2009, Westerhout menghasilkan lebih banyak.

Katie Johnson menghasilkan US$ 75 ribu setara Rp 982,5 juta sebagai Asisten Eksekutif Barack Obama saat memulai kerja pada 2009 di usia 27. Bila menyesuaikan dengan inflasi, gajinya mendekati US$ 85 ribu atau setara Rp 1,1 miliar.

Westerhout berasal dari California dan meraih gelar sarjana ilmu politik dari College of Charleston. Dia sebelumnya bekerja sebagai asisten calon Republikan di tingkat negara bagian dan federal.

Dia mengambil cuti dari perguruan tinggi pada 2012 untuk magang saat kampanye kepresidenan Mitt Romney.

"Saya akan menjadi saksi mata sejarah, yang sangat menarik," kata dia kepada The College of Charleston awal tahun ini. "Ini suatu kehormatan."

Sumber : Liputan6.com